Bangunan Peninggalan Belanda

Bangunan Peninggalan Belanda di Jogja

Suka akan sejarah? Berwisata Jogja saja. Cuma punya waktu sebentar? Tenang saja. Jika perencanaan itinerary liburan ke Jogja sudah direncanakan dengan matang, pastinya hal ini bukan sebuah masalah.

Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak sekali peninggalan sejarah, termasuk peninggalan Belanda. Bangunan-bangunan ini menjadi saksi bisu sejarah panjang penjajahan Belanda di Indonesia. Berikut ini adalah 7 bangunan peninggalan Belanda di Jogja yang wajib dikunjungi:

1. Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia di Jalan Pangeran Senopati merupakan salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta. Nah, Gedung ini dibangun pada tahun 1879 oleh Hulswit dan Cypress, dua arsitek Belanda. Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai kantor De Javasche Bank, bank sirkulasi Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-19, Yogyakarta menjadi pusat perdagangan dan industri gula yang berkembang pesat. Hal ini menyebabkan perputaran uang di Yogyakarta menjadi sangat besar dan cepat. De Javasche Bank dibangun untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan uang yang meningkat di Yogyakarta.

Selain untuk menyimpan uang, gedung ini juga berfungsi untuk menjaga keamanan sistem kredit. De Javasche Bank memiliki wewenang untuk mengeluarkan uang kertas dan mengatur peredaran uang di Hindia Belanda.

Gedung Bank Indonesia mengalami beberapa kali perubahan fungsi selama masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1942, gedung ini diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai kantor Bank Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung ini digunakan oleh Bank Indonesia.

Pada tahun 1963, Bank Indonesia pindah ke gedung baru di Jalan M.H. Thamrin. Gedung di Jalan Pangeran Senopati kemudian digunakan sebagai kantor Bank Indonesia Cabang Yogyakarta.

Pada tahun 1980-an, gedung ini sempat dibuka untuk umum sebagai museum atau galeri. Namun, sekarang gedung ini tidak lagi dibuka untuk umum, kecuali sedang ada event atau pameran.

Gedung Bank Indonesia memiliki arsitektur bergaya Indisch Empire. Gaya ini merupakan perpaduan antara arsitektur Eropa dan Indonesia. Gedung ini memiliki tiga lantai dan didominasi oleh warna putih dan kuning.

Bangunan Peninggalan Belanda di Jogja

2. Kantor Pos Yogyakarta

Kantor Pos Yogyakarta yang terletak di Jalan Pangeran Senopati merupakan salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta. Bangunan peninggalan Belanda di Jogja ini di bangun pada tahun 1912 oleh Burgerlijke Openbare Werken, Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Pada awalnya, gedung ini di fungsikan sebagai Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor, atau kantor pos, telegraf, dan telepon.

Kantor pos merupakan salah satu sarana komunikasi yang penting pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Gedung ini berfungsi untuk mengirimkan surat, telegram, dan telepon antar wilayah di Hindia Belanda. Kantor pos juga berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang perkembangan terkini.

Gedung Kantor Pos Yogyakarta memiliki arsitektur bergaya Indisch Empire. Gaya ini merupakan perpaduan antara arsitektur Eropa dan Indonesia. Gedung ini memiliki tiga lantai dan di dominasi oleh warna putih dan kuning.

Kantor pos Yogyakarta masih memiliki fungsi yang sama seperti dulu. Gedung dengan arsitektur khas Kolonial Belanda ini masih berfungsi sebagai pusat komunikasi dan jasa lainnya, seperti perbankan. 

Bangunan Peninggalan Belanda di Jogja

3. Gedung BNI 46

Gedung BNI 46 yang terletak di Jalan Ahmad Dahlan merupakan salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta. Di bangun pada tahun 1921 oleh seorang arsitek Belanda tapi kelahiran Tulungagung. Dia bernama Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, .

Pada awalnya, gedung ini di fungsikan sebagai kantor perusahaan asuransi jiwa. Namanya adalah Nederlandsch-Indische Levensverzekeringen en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ), yang bekerja sama dengan De Javasche Bank.

Gedung BNI 46 memiliki arsitektur yang unik dan indah. Gedung ini merupakan perpaduan antara gaya art deco dan kolonial. Gaya art deco terlihat dari penggunaan ornamen-ornamen geometris dan motif-motif abstrak. Gaya kolonial terlihat dari penggunaan pilar-pilar dan jendela-jendela yang besar.

Uniknya, sampai saat ini bangunan ini masih terlihat orisinil. Gedung ini masih mempertahankan keindahan arsitekturnya. Bangunan peninggalan Belanda di Jogja ini juga masih berfungsi sebagai kantor Bank BNI 46.

4. Benteng Vredeburg

Bangunan Peninggalan Belanda di Jogja

Benteng Vredeburg memiliki sejarah yang kental dengan kota Jogja. Nah, Benteng ini di bangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan HB I atas bujukan pihak Belanda. Alasan Belanda adalah untuk menjaga keamanan keraton dan sekitarnya. Namun, tujuan sebenarnya adalah untuk memudahkan Belanda memantau dan mengontrol perkembangan yang terjadi di dalam keraton.

Pada awalnya, benteng ini bernama Rustenberg. Bentuk benteng ini masih sangat sederhana, terbuat dari tanah yang di perkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon aren dan kelapa. Bangunan di dalamnya terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap ilalang.

Benteng Rustenberg di bangun dalam bentuk persegi dengan bastion di empat sudutnya sebagai tempat penjagaan. Oleh Sultan, masing-masing bastion di beri nama berbeda. Yaitu Jaya Wisesa di sebelah barat laut, Jaya Purusa di timur laut dan Naya Prakosaningprang di barat daya. Sedangkan di sudut tenggara di beri nama Jaya Prayitna.

Perlahan, Rustenberg memiliki fungsi yang jelas sebagai benteng pertahanan tentara Belanda. Hal ini terlihat dari pembangunan ulang benteng pada tahun 1867 setelah terjadi gempa hebat yang meruntuhkannya. Benteng Rustenberg pun berganti nama menjadi Vredeburg, yang berarti “perdamaian”.

Pada masa pembangunan ulangnya, benteng Vredeburg di lengkapi dengan parit atau kanal di sekelilingnya sebagai bentuk pertahanan. Kanal ini bertujuan untuk mencegah musuh mendekati benteng. Dahulu, jembatan yang mengarah ke gerbang benteng adalah jembatan kayu jungkat-jungkit. Jembatan ini dapat di angkat menjadi posisi berdiri saat tidak sedang di gunakan.

5. Gedung Agung

Gedung Agung merupakan salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta. Nah, Gedung ini merupakan bekas kediaman kepala residen di bawah kepemimpinan Hindia Belanda.

Bangunan peninggalan Belanda di Jogja mulai di bangun pada Mei 1824 atas prakarsa Anthony Hendriks Smissaert, Residen Yogyakarta ke-18 (1823-1825). Smissaert berkeinginan untuk memiliki sebuah “istana” yang luas. Tujuan adalah untuk meningkatkan kesan wibawa bagi para penduduk Belanda yang tinggal di sana.

Gedung Agung memiliki luas 43.585 meter persegi. Gedung ini di bangun dengan gaya arsitektur Indisch Empire, perpaduan antara arsitektur Eropa dan Indonesia.

Kini, gedung ini telah beralih fungsi menjadi salah satu Istana Kepresidenan. Gedung ini menjadi kediaman dan kantor resmi Presiden RI. Gedung Agung juga di buka untuk umum, namun dengan memenuhi beberapa persyaratan tertentu.

Bangunan Peninggalan Belanda di Jogja

6. Ngejaman

Ngejaman merupakan persimpangan penting di Yogyakarta. Di sini, Jalan Margomulyo, Jalan Pasar Besar, dan Jalan Malioboro bertemu.

Pada masa penjajahan Belanda, Jalan Margomulyo merupakan jalan utama yang menghubungkan Kraton Yogyakarta dengan pusat pemerintahan Belanda di Weltevreden. Jam besar yang terletak di persimpangan ini merupakan persembahan warga Belanda kepada pemerintahnya. Yakni sebagai bentuk peringatan satu abad kembalinya Pemerintah Kolonial Belanda dari Pemerintahan Inggris yang menguasai Jawa di awal abad ke-19.

Jam yang di bangun pada tahun 1916 tersebut masih ada hingga sekarang dan berdiri dengan teguh. Hanya saja prasasti kecil yang menunjukkan peringatan tadi telah di hilangkan.

Di sebelah jam besar ini, terdapat Gereja GBIP Margo Mulyo. Gereja ini merupakan Gereja Protestan pertama di Yogyakarta yang di peruntukkan beribadah orang-orang Eropa pada masa itu. Gereja ini di bangun pada tanggal 24 Juli 1857. Fungsinya pun masih sama hingga kini sebagai tempat ibadah umat Protestan.

7. Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo merupakan salah satu pasar rakyat terbesar di Yogyakarta. Tempat ini telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1758, tak lama setelah berdirinya Keraton Yogyakarta.

Pada awalnya, wilayah bangunan peninggalan Belanda di Jogja ini merupakan hutan beringin. Warga sekitar memanfaatkan hutan ini sebagai tempat transaksi ekonomi.

Pada tahun 1925, Keraton Yogyakarta menugaskan Perusahaan Beton Hindia Belanda untuk membangun los-los pasar. Los-los ini di bangun untuk menggantikan bangunan pasar yang sebelumnya terbuat dari kayu.

Nama Beringharjo muncul pada masa bertahtanya Sri Sultan HB VIII. Nama ini di pilih karena memiliki arti wilayah yang semula hutan beringin (bering) dan di harapkan mampu menyejahterakan (harjo). Bagi masyarakat Jawa, pohon beringin memiliki makna lambang kebesaran dan perlindungan.Bangunan-bangunan ini menjadi saksi bisu sejarah panjang penjajahan Belanda di Indonesia dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Yogyakarta. Tertarik untuk berkunjung ke 7 bangunan peninggalan Belanda di Jogja di atas? Ayo segera agendakan berlibur ke Jogja dan nikmati keseruan wisata sejarahnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top